Iman, apakah iman menurut persepsimu?
Bagaimana ketika cinta bertemu dengan sebuah keimanan yang sejati namun orang di luar sana melihat ini bertentangan??
Beberapa tahun yang lalu, buat saya dan wahyu menjadi suatu hal yang mengganjal atau mungkin hanya untuk saya pribadi... Kami berdua datang darii keluarga yang menganut agama yang berbeda dengan ritual2 agama yang tentu saja berbeda pula... Namun kami berdua merasa sangat nyaman untuk bersama dan saling mendukung satu sama lain... Kami merasakan kasih Tuhan dari kebersamaan kami, kami belajar menghargai, kami belajar melihat nilai lain dari masing-masing ritual yang berbeda tersebut dan semuanya terlihat indah. Tujuh tahun bersama, kami tidak pernah bertengkar karena perbedaan ritual tersebut atau berusaha mencari mana yang paling benar justru kami merasa tak ada yang salah dengan perbedaan-perbedaan yang ada.
Di satu sisi, saya merasakan secara pribadi bukanlah suatu masalah ketika saya harus membagi kehidupan ini dengan seseorang yang berbeda agama dengan saya. Bahkan saya pun merasa tak masalah jika ternyata anak saya tak seagama dengan saya, asalkan dia berguna bagi sesama dan semesta.
Hal ini tentu tak mudah untuk banyak orang dan di keluarga kami, tapi kami terus berusaha membagikan kebaikan keberadaan kami berdua.... satu persatu tahapan untuk maju ke tahapan yang lebih serius pun akhirnya kami lewati, walaupun tidak selalu berjalan mulus tanpa halangan... tetapi semua menunjukan progress yang baik...
Jujur saja saya tidak sependapat dengan anda.
ReplyDeleterumah tangga akan lebih berbahagia jika dibangun atas dasar yang sama dan visi yang sama dengan misi yang sama pula.
Di lubuk hati yang paling dalam pasti ada yang kurang pas untuk dirasakan. hal itu jg akan menyakiti anak2 anda kelak.
"Ayah, kok ibu tidak ikut beribadah bersama kita?"
-renungkan-
Salam,
Titus Siswandono
terima kasih atas komennya, di lubuk hati siapa? saya? tak ada keraguan sedikit pun TUHAN yang saya kenal dan percaya yang saya yakini penuh kasih dan cinta jadi biarlah dia yang menjadi hakim nantinya... Tapi jujur visi dan misi saya dengan sama dan satu walau orang melihat baju (agama) kami berbeda tapi jauh di dalamnya hati kami punya misi yang sama.. perkara anak mereka akan dikandung oleh nilai kebaikan dan kemanusiaan dan pasti akan takut TUHAN bukan suatu yang abstrak tapi karena meyakini sebagi karya Ilahi yang wajib bermanfaat pada sesama dan semesta...
ReplyDeleteYa kita sepakat untuk tidak sepakat buat saya itu suatu hal yang lumrah...
God Bless U, Titus
Cheers
Etha